Apa kabarmu gadisku…. semoga baik dan hari-harimu adalah hari-hari yang penuh keceriaan. Kupanggil saja kamu bunga edelweis. Sebuah bunga berwarna putih seperti salju dan lembut seperti kapas. Bunga itu hanya tumbuh di atas pegunungan. Orang-orang menyebutnya bunga keabadian, karna dimanapun ruang dan waktu ia diletakkan ia tidak pernah melayu. Entah, aku hanya bisa menyebutnya. Apakah betul itu nama bunga itu, yang jelas itu yang aku dengar dari orang-orang. Tapi aku masih menyimpan bunga itu di ruang tamu rumah, dan sudah tiga tahun ini sama sekali bunga-bunganya tidak pernah aku lihat gugur.


Gadis kecilku…. pengisi warna lain dalam kanvas hatiku….

Aku ingin berkisah kembali tentang saat-saat dimana aku melihatmu pertama kalinya. Ini kurasa penting untuk mengisahkan padamu betapa sejak dulu aku sudah menancapkan tanda ketertarikanku padamu.

Saat pertama kali melihatmu, kamu hanya seorang gadis kecil yang imut, yang kecantikannya terpancar di tahi lalat yang tumbuh di atas bibir manismu. Saat melihatmu, seketika ada ruang kosong nan luas yang menampung asa dan ketertarikan akan pesonamu. Keinginan memilikimupun mulai terbetik, walaupun keraguanku lebih besar menghalangi sebab kamu hanyalah gadis kecil yang belum waktunya bersanding di atas singgasana sang penyair jalanan. 

Harapan untuk memilikimu memudar saat bunga lain memikat sang kumbang dengan aroma madunya. Namun pesonamu masih tersimpan rapat dalam sebuah peti emas yang kusimpan dalam detak jantungku. Acapkali melihatmu, peti itu akan terbuka dan memaksa jantungku lebih cepat berdetak dari biasanya.

Tak ada yang boleh tahu ada peri kecil nan anggun berdansa sepi namun menghanyutkan dalam hatiku. Sang peri kecilpun tak pernah tahu bahwa jiwanya bersemayam dan sesekali jadi maha karya indah sang pujangga malam dalam gubahan sajak. Hingga saat sang bunga yang lain meninggalkanku sendiri dalam duka mendalamku, kucoba membuka kembali kunci peti emas dan membisikkan kata yang lama terpendam di telinga sang peri kecil yang mulai beranjak dewasa. 

Di awal musim penghujan, tepatnya di minggu pertama bulan Desember saat rintik-rintik hujan nan mengundang, kidung cintaku kau balas dengan sebuah senyuman dan tatapan mata penuh makna. Senyum itu pula yang membawaku malam itu terbang ke pulau imaji. Pulau nan indah yang andai kamu bisa ikut bersamaku mengunjunginya, kamu tentu akan takjub melihat betapa indahnya taman-taman yang kubangun dengan gubahan syairku. 

Ada banyak macam jenis puspa dengan aneka warna, sungai-sungai yang mengalir dari sumber mata air cinta. Ada telaga rasa para pecinta dengan hiasan bunga-bunga tunjung berwarna perak dan airnya yang biru bening laksana berlian. Kamu bisa mendengar bagaimana sang bayu memainkan kecapi alam. Menggubah gesekan rerantingan pohon dan dedaunan menjadi sebuah simfoni yang mengalunkan beribu melodi yang hanya terdengar di telinga para pecinta. Matapun akan dimanjakan dengan dansa ilalang dan para melata yang meniup serunai dan gubahan sastra alam.

Di sana juga kamu akan bisa melihat sebongkah batu yang mirip sebuah singgasana raja, yang terletak di pucuk sebuah bukit menghijau yang membentang sebagai benteng istana imajiku. Di sanalah kuhabiskan malam-malamku menggubah syair dan pujiku tentang cinta. Di tempatku bersandar, tak lupa setiap kali singgah disana, satu persatu ku tulis huruf dari namamu dengan pisau patri, biar sampai kapanpun namamu akan selalu terpatri sebagai mahajana dalam lubuk terdalam hatiku.  Di batu itu pula, aku bisa jelas memandang wajahmu nan cantik terlelap dalam dekapan selimut malam. Lewat pawana kubisikkan kata-kata indah di telingamu, semoga menjelma menjadi mimpi-mimpi indah hingga membuatmu enggan terbangun dari tidur lelapmu.

Kucuri dan kunikmati wajah dan tubuhmu dari balik tabir kerinduan, sebelum bisa kurangkai rasa-rasa yang menjelma dalam hati untuk aku ungkapkan lewat suara yang mengisahkannya padamu. Hati hanya bisa bergumam dalam takjub “Indah nian pesona gadis berkerudung putih”.


Gadisku… sang puspa putih yang wajahnya penuhi galeri jiwa. 

Dunia memang sebuah permainan yang telah ditentukan Sang Pemilik Permainan. Sang Maha Indah yang aku yakini tidak ingin keindahan cinta kita ternodai dengan bersatunya kita dalam realita saling memiliki. Saling memiliki bukan berarti harus dengan terbangunnya istana rumah tangga, ataupun dengan bersatunya tubuh kita dalam dekapan Masing-masing. waktu dan ruang tak mengijinkan dua detak jantung beriringan memadu detak di dipan malam. Memiliki terekspresikan dalam rasa bahagia saat yang dicintai mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya ia akan berduka saat sang tercinta mendapatkan kemalangan. Dengan cinta semua menjadi indah walaupun sekali lagi tidak dalam ruang saling memiliki.


Gadis kecilku…. warna baru di kanvas hati yang pernah terluka.

Tidak pernah ada alasan lain aku memilih pergi meninggalkanmu selain yang pernah aku kisahkan kepadamu. Bukan sebab ada gadis lain yang membuat mataku buta karena pesona dan kecantikannya. Bagiku tak ada guna cantik jika hati tak merasa nyaman pada pandangan pertama. Bagiku kau yang membuatku dulu tertarik sampai saat ini tak akan mampu tergantikan. 

Selamat malam dan semoga mimpi-mimpi indah selalu mengiringi tidurmu. Jangan pernah patah semangat. Jangan pernah membenci dan menganggapku sebagai pembohong besar. Anggap dan yakini aku sebagai pujanggga yang akan meninabobokan setiap kegelisahan hatimu dengan bait syair dan doaku untukmu. Di luar sana akan ada banyak pangeran yang menunggumu. Pilihlah yang terbaik dan dapat membahagiakanmu hingga nafas terakhirmu. Harus yang terbaik karena aku tak akan pernah rela melihatmu tersakiti.

Ah, tak terkira syukur hati dapat mengenalmu sebagai inspirasi terbesarku. Bayangan wajahmu, senyum bibirmu dan tatap matamu akan aku bingkai di hati dengan bingkai zabarjad. Setiap sajak yang termaktub karena pesonamu, akan aku ukir dengan tinta kencana dan akan jadi karya maha penting dalam hatiku.

RISALAH BUAT GADIS BERKERUDUNG PUTIH

Kekasihku…. Jika kelak kau telah memilih laki-laki lain, aku berharap tak akan pernah melihatmu lagi. Aku tak ingin tangisku mengundang luka baru di hatiku. Biarkan seolah-olah aku lenyap, begitupun kau………


Post a Comment

Comment Policy : Silahkan tulis komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

أحدث أقدم