Raden Simbar begitu berang saat mengetahui telah beberapa kali Dewi Ranggis, Gadis cantik Desa sebelah menolak kehendaknya untuk melamarnya. Dia marah karena Kembang Desa itu sama sekali  tidak menghiraukan wajahnya yang rupawan serta kedudukan dan statusnya yang berpengaruh hingga ke pelosok desa. Padahal tak seorangpun dari gadis-gadis desa itu yang kuasa menolak cintanya, bahkan tak jarang mereka sendiri yang datang dengan sukarela menyerahkan diri kepada Raden Simbar. 


Tapi lain dengan Dewi Ranggis, gadis yang merupakan primadona di desa sebelah itu sama sekali tidak tertarik dengan kebangsawanan serta ketampanan Raden Simbar. 

Apakah mata gadis itu buta sehingga sama sekali tidak melihat ada emas berkilau di hadapannya?.

Apakah ia sama sekali tidak silau dengan ketampanan Raden Simbar yang telah kesohor hingga ke pelosok negeri itu?

Atau adakah laki-laki lain yang telah mempesonakan hati Dewi Ranggis sehingga sama sekali tak ada satupun dari pesona Raden Simbar yang membuat hatinya takluk?


Kalau memang benar ada laki-laki lain di hati Dewi Ranggis, ia ingin sekali melihat seperti apa gerangan rupa laki-laki yang telah mengasingkan mata Ranggis dari melihat dirinya.


Raden Simbar kembali mengepalkan tangannya. Berkali-kali ia tak sadar harus berteriak saat sikap acuh tak acuh Dewi Ranggis memenuhi ingatannya.


Raden....Raden...! tiba-tiba terdengar teriakan memanggil dari kejauhan. Raden Simbar menoleh dan tampak olehnya seorang laki-laki kurus berlari kecil ke arahnya. Tatap mata Raden Simbar tajam. Kemarahan yang ditahannya kemudian dihempaskannya ke wajah laki-laki itu.


"Kurang ajar, ada apa denganmu Keling. Tak tahukah kamu bahwa saat ini aku sedang murka sebab Dewi Ranggis menolak cintaku?" Kata Raden Simbar geram. 

Laki-laki yang dipanggilnya Keling itu hanya bisa tertunduk ketakutan sambil meringis menahan rasa sakit di wajahnya.


"Kenapa kamu diam bangsat! Kamu telah mengagetkanku seolah-olah ada berita penting yang kamu bawa. Dan sekarang kamu diam seakan-akan tadinya kamu hanya ingin mengagetkanku dengan panggilanmu". Sambungnya kian berang melihat Keling hanya terdiam. Keling mencoba memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dengan suara terbata-bata ia mulai bercerita.


"Begini Raden, tadi Hamba melihat Dewi Ranggis bersama seorang laki-laki di sungai desa"


Sebuah tamparan keras kembali mendarat di wajah Keling. Keling kembali meringis memegang wajahnya. Ia benar-benar merasa kesakitan setelah dua kali wajahnya ditampar Raden Simbar.


"Apa? Ranggis bersama laki-laki lain? Apa kamu sedang tidak mengada-ada Keling? Apa kamu sengaja membuat aku semakin murka? Kamu berani-beraninya bilang kalau ada laki-laki lain selainku bersama Ranggis?"


"Hamba tak mungkin berani membohongi Raden. Yang hamba katakan ini adalah kenyataan yang harus hamba ceritakan karena hamba tahu Dewi Ranggis itu mutlak hanya untuk Raden seorang".


"Sekarang ceritakan aku siapa laki-laki itu, dari mana asalnya dan seperti apa rupanya. Apakah lebih tampan dariku, lebih gagah dariku sehingga bertutur sapa saja denganku sepertinya Ranggis tidak mau" kata Raden Simbar geram. 

Rona muka Keling yang tadinya kaku ketakutan Nampak mulai mengendur.


"Antara dia dengan Raden ibarat langit dan bumi. Malah dibandingkan dia, hamba jauh lebih menarik" kata Keling.


Kening raden Simbar mengerut. Tatapan matanya penuh selidik ke mata Keling mencari kebenaran tentang kata-kata yang baru saja dikatakan Keling.


"Apakah kamu tidak sedang menghiburku Keling?"


"Sama sekali tidak Raden, ini adalah kenyataan. Kalau tidak percaya Raden boleh ikut melihat langsung seperti apa gerangan rupa laki-laki kekasih dewi Ranggis itu"


Raden Simbar terdiam memandang Keling. Ada kejujuran yang ia tangkap dari segurat senyum di bibir Keling. "Tak mungkin dia membohongiku" batin Raden Simbar.


 

********


Sementara itu. Di sebuah sungai Nampak dua pasang kekasih sedang memadu cinta.


"Gading, apakah kau tahu betapa bahagianya aku hari ini? Seperti mimpi dan jika benar, aku tidak ingin lekas terbangun darinya" Kata Dewi Ranggis tersenyum. 

Sinar matanya yang lembut seperti pendar rembulan membuat Gading yang masih membelai rambutnya, terperangkap di antara rasa bahagia dan gundahnya.


"Terimakasih Ranggis. Ini adalah anugrah terindah buatku. Aku tak lagi bisa mengintipmu dalam setiap pandanganku. Akupun tak pernah muluk-muluk untuk bisa memilikimu. Namun sekarang Yang Kuasa telah membuat mudah segalanya. Mengijinkan kulitku yang kotor ini menyentuh kulitmu yang suci" Kata Gading merendah sambil menghapus air mata yang meleleh di wajah hitamnya. Ranggis tersenyum. Tangannya yang putih ikut mengusap air mata yang meleleh di wajah Gading.


"Pegang tanganku Gading dan berjanjilah kita tidak akan saling meninggalkan". Kata Dewi Ranggis. Gading mendekap tangan Dewi Ranggis dan menciumnya. Keduanya mulai tenggelam dalam dekapan masing-masing.


Gemericik air terdengar lembut di sela-sela bebatuan. Suara kesiar dedaunan bambu yang tertiup angin dan kicau burung kecil yang menggelar irama buat sepasang kekasih yang sedang terbuai asmara. Seorang dewi berparas cantik dengan sepasang bola mata indah, leher jenjangnya yang putih, pipi merah merona serta rambut yang terurai bak sutra malam. 

Seorang lelaki buruk rupa. Seperti tak tahu malu meletakkan kepala sang dewi di pangkuannnya. Seperti arang hitam yang mengeruhkan air telaga putri. Namun ia tak bergeming saat hembusan angin membawakan nafas-nafas dan celoteh iri dari segala penjuru. Menumpahkan beribu-ribu ludah di pundak Gading yang terpaku bisu. Tenggelam bersama merdu tembang sang dewi.


"Ranggis! Tak tahu malu. Wanita jalang! Karena laki-laki inikah kau tak mengindahkan segala perkataan dan titahku? Apa yang kau harapkan dari keturunan monyet ini" 

Dewi Ranggis dan Gading menoleh. Dilihatnya Raden Simbar berdiri berkacak pinggang dengan Keling yang tertunduk di belakangnya. Dewi Ranggis bangkit dan segera menyongsong Raden Simbar.


"Cukup! Kau tidak punya hak apapun untuk mengatakan sesuatu yang buruk pada kekasihu. Kaupun tidak punya hak untuk tahu urusanku. Tidak sekali-kali Simbar. Kau mungkin cukup bangga dengan segala kelebihan yang kau miliki, tapi bukan berarti semua orang akan tunduk di depanmu" kata Dewi Ranggis dengan tatapan tak kalah tajamnya. Raden Simbar bertambah geram.


"Kamu berani mengatakan itu padaku Dewi? Kamu tahu apa yang akan kamu dapatkan karena telah menghinaku?" kata Raden Simbar sambil menunjuk wajah Dewi Ranggis. Dewi Ranggis tersenyum ketus.


"Sangat tahu. Kalau tidak diasingkan, kamu pasti akan membunuhku. Tapi jangan mengira kami takut Raden. Kami akan menyonsong mati itu kalau itu memang yang terbaik untuk cinta kami" kata Dewi Ranggis tegas. 


Ia lalu berpaling dan berlalu meninggalkan Raden Simbar yang masih terperangah tak percaya atas apa yang telah dikatakan Ranggis.


************


"Kenapa denganmu Gading. Kenapa kau menangis?" Tanya Dewi Ranggis heran ketika melihat Gading terisak-isak dan melepaskan pegangan tangan Dewi Ranggis. Gading hanya tertunduk. Dewi Ranggis mendekat dan mencoba menghapus air mata di wajah Gading, namun Gading segera menghalaunya. Dewi Ranggis semakin penasaran.


"Pergilah Ranggis, pergilah sejauh-jauhnya agar aku tidak bisa melihatmu lagi. Benar kata Raden Simbar, aku tidak pantas untukmu. Tidak akan pernah pantas". Kata Gading menangis sesenggukan.


Mendengar itu Dewi Ranggis tertunduk. Dia merasa iba begitu menyadari Gading sangat tertekan dengan kata-kata Raden Simbar tadi. Ditatapnya wajah Gading dan tanpa ragu mendekap tubuhnya. Semakin Gading berusaha menghalau tubuhnya, semakin erat pelukan Dewi Ranggis memeluk tubuhnya.


"Aku boleh saja pergi meninggalkanmu, tapi yakinlah kau tidak akan pernah melihatku lagi. Aku akan memilih mati daripada harus dipisahkan dari kekasihku. Tatap aku Gading dan lihatlah cahaya mataku. Jangan hiraukan mulut-mulut dunia yang tak pernah mengerti arti sebuah cinta. Mereka yang masih tetap terpaku menyandingkan cinta dengan kata pantas dan tidak pantas. Tuhan tidak pernah berkehendak seperti itu bukan?" Mendengar itu Gading merasa tenang dan tersenyum kecil ke arah Dewi Ranggis.

Gambar


Kedua pasang mata kembali beradu seakan-akan menembus kedalaman hati masing-masing. Kembali hanyut dalam pelukan masing-masing. Saat terdengar teriakan disertai umpatan dan cacian dari atas sungai, mereka masih enggan melepaskan dekapan satu sama lain.


Mereka tak sadar di atas sana, tepatnya di pintu air Raden Simbar berdiri dengan muka beringasnya menatap ke arah mereka. Setelah itu cacian dan sumpah serapah mengiringi tangan Raden Simbar membuka pintu air. Semakin terbuka dan air bahpun meluncur deras ke bawah. Menghanyutkan segala yang dijumpainya. Termasuk Gading dan Dewi Ranggis yang bisu ditelan ganasnya air.

Penulis : Lalu LHJ

Post a Comment

Comment Policy : Silahkan tulis komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Previous Post Next Post