Namanya Karima Dyah. Gadis bermata sipit dan berkulit kuning langsat. Alisnya tebal dan terkesan tidak rapi. Namun lesung pipit sebelah di pipi kirinya benar-benar membuat wajahnya sempurna untuk inspirasi para pujangga. Bodynya dapat nilai sepuluh dan layak dapat dua jempol, walaupun dia hanya seorang gadis yang lahir dan tumbuh di kawasan hutan Sekaroh, ujung selatan pulau Lombok. 


Gadis itu tak sengaja ia jumpai saat ia hendak menuju Tangsi. Gadis itu ia jumpai ketika sedang membawa ranting-ranting kering akasia di kepalanya. Awalnya ia acuh tak acuh dan merasa tidak perlu peduli dengan gadis itu, karena hal seperti itu sudah sering ia jumpai di hutan. Tapi saat gadis itu menoleh, ia merasakan tangannya seketika seperti dipaksa untuk menghentikan laju sepeda motornya, dan seperti orang yang sedang terhipnotis, seketika hayalan terindah, bayangan beribu-ribu wanita cantik yang menghiasi perjalanannya musnah saat melihat paras cantik alami gadis itu. 


Seringkali ia melihat beberapa gadis di kawasan hutan itu, namun baru kali ini ia benar-benar melihat gadis pemikat hati yang sebenarnya. Ia pun tidak sadar telah membalikkan arah motornya ke arah gadis itu, dan dengan penuh kepedulian ia mulai menawarkan jasa untuk mengantarkan gadis itu ke rumahnya. 


Tiga kali gadis itu menolak, tapi Fadli setengah memelas meminta gadis itu agar bersedia diantar, karena ia merasa tidak tega melihatnya berjalan sendirian di jalan bebatuan dengan membawa kayu bakar. Apalagi saat Fadli mengambil sendiri kayu-kayu bakar itu dari kepalanya dan meletakkannya di atas jok sepeda motornya, membuat gadis itu akhirnya luluh dan mau menerima tawaran Fadli. 


Sepanjang perjalanan menuju rumah gadis itulah ia berhasil mendapatkan nama gadis itu, Karima Dyah, iapun mendapat kesempatan mengobrol banyak, tentunya sambil menikmati hidangan pisang goreng dan secangkir kopi setengah pahit buatan Karima sesampainya mengantar Karima.


Sejak itu hampir setiap hari ia mengunjungi karima, padahal jarak ke rumah Karima dengan rumahnya lumayan jauh, sekitar dua puluh kilo. Tapi senyuman dan wajah cantik Karima yang selalu terbayang saban malam membuatnya tak kuasa menolak keinginan hatinya untuk sesering mungkin bertemu Karima. Tak jarang ia harus membantu karima bekerja di ladangnya. Hal itu juga yang membuat hubungannya dengan kedua orang tua Karima bertambah akrab. Tentunya itu akan semakin memudahkan jalannya mendapatkan hati Karima. Baginya tidak masalah walaupun setiap hari ia harus membantu Karima bekerja di ladangnya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta, dan ia merasa milik Karima adalah miliknya, begitupun sebaliknya. Tapi ia belum berani menyatakan cintanya kepada karima. Ia takut jika nanti ia harus menerima kenyataan Karima tidak suka kepadanya, walaupun dari gelagat dan sikap Karima, ia sedikit yakin cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.


Kini sudah tiga tahun hubungannya dengan Karima berjalan. Dua minggu setelah perkenalannya dengan Karima, iapun memberanikan diri menyatakan cinta kepada Karima. Di atas hamparan pasir pantai Pink, perasaan yang lama terpendam terungkapkan. Tak satupun dari rasa yang mengganjal di hatinya yang tertinggal. Gayungpun bersambut, ternyata selama ini karimapun memendam perasaan cinta yang dalam kepada Fadli. Diapun menunggu saat-saat fadli akan mengungkapkan rasa cintanya. Dan kini ia merasa hari itu benar-benar berbeda. Suasana pantai yang indah dikelilingi oleh bebukitan nan menghijau dan biru laut yang tenang menambah suasana hati yang tenggelam dalam keindahan cinta yang terasa. Hingga saat senja tiba, mereka enggan beranjak meninggalkan pantai itu.


Terlalu cepat waktu bergulir meninggalkan suasana senja yang jadi saksi bisu bersatunya cinta keduanya. Harus ada yang tertoreh sebagai saksi abadi bahwa di pantai itulah cinta mereka resmi diproklamirkan. Fadli pun memberanikan diri meraih tangan Karima dan mengajaknya masuk ke dalam bunker bekas peninggalan tentara Jepang yang jaraknya sekitar tiga meter dari bibir pantai. 


Walaupun suasananya begitu gelap dan beberapa kali Karima berbisik takut, Fadli terus mengajak Karima masuk ke dalam lubang. Hingga di pertengahan lorong Fadli berhenti dan mengeluarkan sebuah senter kecil dan sebilah pisau dari sakunya. Di dinding lorong ia kemudian mengukir namanya dengan nama Karima. Tak lupa setelah itu sebuah cincin perunggu ia sematkan di jari manis karima. Keduanyapun berikrar tak akan pernah mengakhiri hubungan hingga saat takdir menyatukan mereka sebagai sepasang suami istri.

Nyaris tak pernah ada pertengkaran serius mewarnai hubungan keduanya. Setiap pertengkaran dan masalah yang terjadi selalu bisa diatasi dan berakhir manis, akhir dengan sebuah senyuman dan kecupan hangat di kening masing-masing. Sungguh hubungan yang sempurna. Hubungan yang terjalin penuh saling pengertian dan kasih sayang. Baik fadli maupun karimapun merasa mereka berdua adalah pasangan yang serasi sekaligus menjadi cermin bahwa hubungan mereka saat ini nantinya akan menjadi sebuah hubungan rumah tangga yang sakinah.


Tapi yang membuat Fadli kini gundah dan takut adalah akan segera berakhirnya hubungan mereka berdua tanpa pertengkaran dan masalah walaupun baik dia maupun karima tidak pernah menghendaki terjadinya perpisahan. Kini ia merasa jauh dari Karima. Seperti mimpi buruk yang akan menghantui hari-harinya. Malapetaka itu datang saat salah satu tetangganya yang juga merupakan ibu angkat dan ibu susuan Fadli pulang dari Saudi Arabia setelah sepuluh tahun lamanya ia bekerja di sana. Ibu angkatnya yang bernama bu aminah itu memintanya untuk mengantarnya ke salah satu kerabat temannya di hutan sekaroh. Ada titipan dari Saudi yang harus diterima oleh kerabat temannya itu. 


Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah ia bersama Bu Aminah ke hutan sekaroh. Tentunya ini kesempatan buat Fadli untuk bertemu dengan Karima, sekaligus akan memperkenalkannya kepada Bu Aminah. Setelah urusan Bu Aminah dan kerabat temannya itu selesai, iapun segera mengajak Bu Aminah mampir di rumah Karima. Tak disangka, ternyata Bu Aminah Dan Bu Karima sudah saling kenal. Itu terlihat saat bu aminah dan Bu Karima saling peluk dan sama-sama menyatakan kebahagiaannya telah dipertemukan Tuhan setelah sekian lama tidak bertemu. 


Karima yang saat itu baru pulang mengambil airpun tidak luput dari pertanyaan Bu Aminah. Saat Karima mencium tangannya dan duduk di dekat fadlipun tak luput dari tatapan mata kedua ibu itu. Terlihat keduanya begitu bahagia saat melihat fadli dan karima duduk bersanding di bawah pohon plamboyan kira-kira lima meter dari rumah Karima. Fadli yakin bahwa pembicaraan mereka sudah menjurus ke hubungannya dengan Karima. Tapi renyah pembicaraan mereka seketika tak terdengar lagi saat keduanya terlihat masuk ke dalam rumah. 


Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, yang jelas hampir satu jam Fadli menunggu di luar. Tapi perasaan dan keadaan mulai berubah saat keduanya keluar dari dalam rumah. Nampak jelas ada sesuatu yang mencurigakan dan menegangkan dari wajah keduanya. Wajah kebingungan bercampur rasa iba. Tak terlihat bekas-bekas keceriaan setelah begitu lamanya tadi mereka bercengkrama melepas rindu. Fadli jadi takut dan mulai bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang sedang terjadi.


Perlahan Bu Aminah mendekat kea rah mereka. Fadli dan Karima bangkit seolah-olah menyambut kedatangan Bu Aminah. Sejenak Bu Aminah terdiam memandang kedua wajah yang sedang kebingungan itu. Sebuah senyuman setengah dipaksakan terlempar ke arah Karima.


"Karima, sini nak" Kata Bu Aminah serak menyuruh Karima mendekat. 

Karimapun segera mendekat. Setelah memandang Karima beberapa saat ia lalu memeluk erat tubuh karima. "Tak kusangka kamu sudah sebesar ini nak, cantik lagi" kata Bu Aminah. Karima tersenyum kecil.

"Nah sekarang ibu mau pamit pulang, sebentar lagi gelap. Kapan-kapan ibu akan datang lagi ke sini" sambung Bu Aminah. Setelah bersalaman, Bu Aminahpun mengajak fadli pulang. Hanya senyuman kecil yang Fadli tebar sebagai ucapan pamitnya pada Karima. 


Suara Tarhim sayup-sayup terdengar menelan kebisuan saat bu aminah dan Fadli tenggelam dengan pikiran masing-masing. Deru sepeda motor pelan menanjaki jalan setapak berkrikil. Tak ada kata yang keluar, hanya mata yang terus tertuju kemana arah lampu sepeda motor mengarah membuyarkan kegelapan. 


Kebisuan diantara keduanya akhirnya terpecahkan saat mereka berdua telah sampai di depan halaman Bu Aminah. Kepala Fadli yang sepanjang perjalanan dipenuhi tanda Tanya dan penasaran yang sangat, akhirnya tak kuasa untuk tidak menanyakan apa sebenarnya yang terjadi dengan sikap bu aminah sejak gelagat misteriusnya sekeluarnya dari rumah Bu Karima senja tadi


"Bu, terus terang saya penasaran dan tidak mengerti dengan sikap ibu. Saya merasakan ada yang aneh setelah ibu bertemu dengan ibunya karima. Tolong ceritakan Saya Bu" kata Fadli membuka pembicaraan. 

Bu aminah mencoba tersenyum, tapi lagi-lagi senyumannya begitu ganjil di mata Fadli. 

"Tidak ada apa-apa kok nak, ibu hanya merasa tidak enak badan saja" kata Bu Aminah. Fadli menggeleng tidak percaya. 

"Jangan bohongi Saya Bu, saya tahu ada sesuatu yang ibu sembunyikan dari saya. Dan tolong jangan buat saya menderita karena anggapan saya kepada ibu". Fadli setengah memelas. 

Bu aminah mulai merasa kasihan. Ia terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Bu aminah mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Pulang dan mandilah dulu. Setelah itu shalat dan mintalah ketenangan pada Allah. Tunggu ibu di rumah, kita akan membicarakannya bersama ibu dan ayahmu di rumah. Jangan lupa memberitahukan kedua orangtuamu bahwa ibu akan ke rumah malam ini.  Ada yang akan kita bicarakan berempat" kata Bu Aminah sambil menepuk pundak Fadli. 


Fadlipun mengangguk walau rasa penasarannya semakin membuat pikirannya tidak menentu. Kata-kata terakhir Bu Aminah cukup menambah resah di hatinya. Setelah mencium tangan Bu Aminah, iapun segera menghidupkan sepeda motornya. Bu Aminah hanya terpaku menatap tubuh Fadli hingga hilang di balik kegelapan malam.


TERDENGAR suara shalawat lamat-lamat dari arah Masjid desa di seberang jalan. Fadli buru-buru mempercepat langkahnya sambil terus berharap doanya agar sesuatu yang buruk tidak terjadi malam ini. Entah apa yang akan dibicarakan oleh bu aminah, yang jelas harapannya itu bukan sesuatu yang menakutkan atau berkaitan sedikitpun dengan hubungan yang kini dijalaninya dengan Karima. 


Fadli semakin mempercepat langkahnya. Suara sandal jepitnya berkecipak seperti beradu dengan detak jantungnya. Tak terasa langkah kakinya sudah sampai di halaman rumahnya. Melihat sandal yang berjejer rapi di teras rumah, sepertinya. Ibu, ayahnya serta Bu Aminah sudah berada di dalam rumah. Ia kemudian masuk perlahan dan mengucapkan salam. Tampak Bu Aminah dan kedua orang tuanya sudah duduk rapi di kursi rotan ruang tamu. 


Setelah menyalami ketiganya, iapun segera duduk dan menunggu pembicaraan pertama yang akan ia dengar malam itu. Sambil terus menelisik sembunyi sorot mata ketiga orang tua di depannya. Fadli terus berusaha menetralkan degup jantung yang seperti hendak terdengar keluar. Dipandangnya lagi satu persatu wajah mereka, tampak ada air mata yang menggenang di bola mata ibunya, dan beberapa kali terdengar senggukan dari mulut ibunya. 


Fadli menghela nafas. Keringat di kening dan tubuhnya mulai membuatnya semakin tidak nyaman. Ia mulai merasa kesal dengan keadaan itu. Bertambah kesal karena sudah beberapa menit, tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka seperti sudah lupa mengenai apa yang mesti disampaikan kepada Fadli malam ini. Fadli tiba-tiba bangkit sembari menghempaskan nafas pendek namun terdengar keras.

"Kalau memang kehadiranku mengganggu pembicaraan dan bincang-bincang kalian, ada baiknya aku pergi. Lagi pula Tidak baik mendengar pembicaraan orang tua" kata Fadli hendak meninggalkan tempat duduknya. 

Melihat itu bu Aminah bangkit dan segera menghalangi Fadli. "Duduklah nak, ibu harap kamu tenang dulu" kata bu aminah sambil menepuk-nepuk pundak Fadli. 

Fadli mengurungkan niatnya setelah terdiam beberapa saat, ia kembali duduk di kursinya. Bu Aminah menatap ayah Fadli yang sedari tadi hanya menyandarkan dagunya di atas tangan. Ayah fadli mengangguk kecil, rupanya sebuah isyarat Bu Aminahlah yang akan membuka pembicaraan. Tapi Bu Aminah membalas dengan sebuah gelengan kecil. Ayah Fadli memperbaiki posisi duduknya, mendehem sekali kemudian menatap Fadli.


"Sudah berapa tahun kamu berhubungan dengan karima nak, dan kapan kamu akan melamarnya". kata Ayah Fadli membuka kebisuan.

"Tiga tahun dan Insyaallah dua minggu lagi saya ingin melamarnya". Ayah Fadli mengangguk kecil. Fadli tersenyum kecut. Kekesalannya bertambah. 


Pertanyaan yang anggap sia-sia dan sebenarnya tidak perlu ia jawab karena jauh-jauh hari ia sudah meminta izin ayah dan ibunya meminang Karima. Tidak mungkin ayahnya mendadak pikun dan lupa kapan ia meminta persetujuannya melamar Karima. Belum selesai keheranannya, Tangis Bu Fadli tiba-tiba pecah. Tidak sampai disitu, Bu Fadli tiba-tiba bangkit dan berhamburan menuju kamarnya. 


Fadli terbengong, suasana itu benar-benar membuatnya bertambah bingung. "Ibu kenapa Ayah" kata Fadli. 

Ayahnya tidak menjawab, tapi hanya memandang Fadli penuh makna. Bu Aminah sendiri hanya bisa tertunduk bisu. Rasa penasaran Fadli berubah menjadi amarah. Tiba-tiba tangannya menggebrak meja sehingga bu aminah dan ayah Fadli terkejut. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi, saya sudah lelah dengan rasa penasaran dan sikap kalian. Tolong terus terang. Jika itu pahit akan saya terima dengan lapang dada"  teriak Fadli mengagetkan keduanya.


Melihat itu, kembali Bu Aminah bangkit ke arah Fadli dan langsung memeluknya.

"Sabar nak, tenangkan dirimu dulu setelah itu ibu janji akan menceritakan yang sebenarnya" kata Ibu Aminah mencoba menenangkan Fadli. 

"Dari tadi ibu menyuruh saya sabar dan tenang. Tapi tidakkah kalian sadar sikap dan gelagat kalian yang mencurigakan itu tidak akan pernah membuatku tenang sejak pertama kali duduk di sini?" kata Fadli kesal bukan main. Bu Aminah menunduk tapi tak lama kemudian ia memeluk Fadli.

"Baiklah, sekarang duduklah nak, sekarang ibu akan menceritakan yang sebenarnya". Fadli duduk dan berusaha menetralkan deru nafasnya. Setelah dirasa tenang, Ibu Aminah membuka pembicaraan.

"Aku dan ibumu memang bukan saudara, tapi pertemanan kami sejak kecil membuat kami sudah seperti saudara kandung. Rumahku adalah rumah ibu kamu juga, begitupun sebaliknya. Saat ibumu melahirkanmu, ibu begitu bahagia karena merasa termasuk dalam kebahagiaan ibumu. Secara bergantian kami merawatmu, terkadang kamu juga sering nginap di rumah ibu. Ibu berharap, dengan kehadiranmu di rumah ibu, bisa menjadi pemancing agar ibu yang sudah dianggap mandul nantinya bisa punya anak. Ibu juga yang menyusui kamu. Ini memang aneh karena air susu ibu tiba-tiba berisi dan bisa kamu teteki setiap kamu butuhkan. Hingga suatu hari, menjelang subuh tiba, ibu mendengar suara tangis bayi di luar rumah. Ibu mengira, ibumulah yang datang mengantarkanmu, tapi setelah ibu keluar, ibu melihat seorang bayi perempuan mungil tergeletak tanpa busana di dalam kardus. Ibupun segera mengambilnya dan mengasuhnya sampai berumur kira-kira Sembilan bulan. Jadilah saat itu di kedua tetek ibu menyusui dua bayi mungil yang tampan dan cantik". Bu Aminah menghentikan ceritanya karena air mata yang mengalir di pipinya semakin deras mengalir. Setelah dirasa tenang, ia kembali melanjutkan ceritanya.


"Tapi sayang ibu harus menyerahkan bayi perempuan itu kepada salah seorang sahabat ibu yang tinggal di Gili Sunut. Karena hutang yang ditinggalkan Almarhum Suami ibu semakin banyak, ibu terpaksa harus menjadi tenaga kerja ke Saudi. Ibu berharap kelak akan menjumpai bayi itu jika ibu telah kembali dari Saudi. Tapi belakangan Ibu dapat kabar bahwa sahabat Ibu telah meninggal dan Ibu tidak tahu lagi kemana bayi itu kini berada". Kembali Bu Aminah mengusap air mata di pipinya dengan suara terbata-bata. 

Fadli seperti terbawa dalam duka cerita Bu Aminah. Iapun terlihat mengusap air matanya.

"Oya, bayi itu sempat ibu beri nama Safira" Kata bu Aminah melanjutkan. 

Fadli menelan ludahnya. Ia mulai agak tenang karena merasa pembicaraan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan Karima. Tapi kening Fadli tiba-tiba mengkerut. Anggapan lain tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Jangan-jangan ia akan dijodohkan dengan gadis yang bernama Safira itu. Tapi ia segera menepisnya begitu ia ingat cerita bu Aminah bahwa Safira adalah saudara sesusuannya. Dalam agama tidak diperbolehkan terjadi pernikahan antara saudara sesusuan.

"Dan satu lagi nak, ibu akhirnya berhasil menemukan gadis itu setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Gadis itu kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik" Fadli kembali mengerutkan keningnya. 


Cerita bu Aminah yang ia anggap telah selesai ternyata berlanjut kembali, kali ini ia merasa inilah inti pembicaraan malam ini.

"Ibu telah menemukan Safira? Tapi dimana Bu" Tanya Fadli penasaran. Bu Aminah menatap Fadli.  

"Ibu menemukannya di rumah sahabat ibu juga yaitu Ibu Karima". Fadli terkejut tapi heran karena sepengetahuannya tidak ada gadis lain di rumah bu karima selain Karima sendiri. 

"Ibu tahu kamu pasti heran karena di rumah itu tidak ada gadis bernama Safira. Yang ada hanya Karima putrinya Bu Karima" Bu aminah menghela nafas panjang sembari menelan ludah dalam-dalam. Ia kemudian kembali melanjutkan ceritanya.

"Dari Ibu Karima juga Ibu dapat berita tentang Safira. Saat Safira berumur dua tahun, ia mulai sering sakit-sakitan, badannya kurus dan seperti tak terawat. Atas saran orang pintar, nama Safira akhirnya diganti dengan nama lain. Dan ternyata itu berhasil, Safira sembuh dan tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas" Bu Aminah menghentikan ceritanya. 

Ia merasa cukup sampai di sana ia bercerita panjang lebar kepada Fadli. Kali ini ia merasa sudah tidak sanggup melihat wajah serius Fadli yang menyimak cerita demi cerita yang Bu Aminah sendiri merasa kesulitan mengakhirnya. 

"Sebentar Bu, kalau boleh saya tahu, siapa nama pengganti nama Safira" kata Fadli penasaran. 

Ibu Aminah menggeleng. "Tanyakan nanti pada Ayahmu nak, Ibu….maafkan Ibu Nak" Bu Aminah kemudian bangkit dan berlari keluar rumah. Fadli heran dan terbengong melihat Bu Aminah.

 

Fadli kemudian duduk. Ia terdiam dan mencoba mengulang kembali cerita bu aminah dalam ingatannya. Begitupun juga tentang alasan mereka bertiga harus menceritakan seorang gadis bernama Safira yang telah berganti nama misteri yang rupanya menjadi tugasnya untuk melacaknya kini. Fadli mengangguk lemas. Air matanya perlahan mengalir dari matanya.


"Begini Nak…." Ayah Fadli mencoba angkat bicara tapi keburu dipotong Fadli. 

"Cukup Ayah, Ayah tidak perlu memberitahukan siapa gadis yang dulunya bernama Safira itu. Fadli sudah tahu, dan sekarang Fadli tidak mau lagi mendengar ada yang bicara tentang gadis itu dihadapanku. Its Bulshit" kata Fadli geram. 


Ia lantas bangun dan dengan langkah setengah sempoyongan berusaha menyeret rasa kaget dan segala rasa tidak enak di hatinya menuju kamarnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terhempas dengan keras disertai dengan teriakan keras menyayat. Mendengar itu, Ibu Fadli keluar dan mendekat ke kamar Fadli, tapi buru-buru Ayah Fadli mencegahnya.


"Biarkan Bu, jangan ganggu Fadli dulu. Saat Dia sedang tidak mau diganggu, jangan sampai suasana hatinya akan bertambah kacau dengan kehadiran kita. Biarkan dia tenang dulu". Kata Ayah Fadli menenangkan Bu Fadli yang menangis tersedu-sedu menatap pintu kamar Fadli.


Kedatangan Bu Aminah benar-benar membawa petaka yang cukup besar buat Fadli. Terutama hubungannya dengan Karima. Harapan untuk segera bersatu dan memadu cinta sampai mati dengan Karima seminggu lagi akhirnya musnah seketika malam ini. Dan saat ini yang akan ia pikirkan adalah bagaimana keluar dari masalah ini. Yang jelas, untuk keluar dari ketersiksaan batin akibat tidak bisanya dia dan Karima bersatu sulit untuk terwujud. Tak ada pilihan apapun yang akan disetujui hati selain satu buah keputusan pasti, yakni tetap bersatu dengan Karima walaupun dunia menentangnya.


Lalu bagaimana dengan Karima? Adakah Ibu Karima juga telah memberitahukan yang sebenarnya pada Karima bahwa dia adalah saudara sesusuan Fadli? Fadli yakin Karima juga telah menerima berita yang buruk ini dari kedua orangtuanya. Dan pasti juga akan merasakan beban batin dan rasa menyakitkan yang akan menemani malamnya yang panjang. 


Fadli tak henti-henti membolak-balikkan tubuhnya diatas ranjang. Ruangan terasa panas mengikuti detak bermacam rasa tidak enak dalam hatinya. Berulangkali ia bangkit, duduk di kursi, menghantam apa saja untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya, berbaring dan mengulanginya lagi. Tapi rasa itu memang sulit untuk dilupakan walau sekejap. Karena tak tahan, tak sadar Fadli tiba-tiba berteriak keras sehingga membangunkan tetangga-tetangganya yang sudah terlelap. Merekapun penasaran dan berbondong-bondong berkerumun di depan rumah Fadli berharap mendapatkan keterangan tentang sebab teriakan Fadli. Kedua orang tua Fadli bertambah cemas. Dengan perasaan malu mereka keluar dan meminta maaf kepada tetangga yang sudah terlanjur berkumpul di halaman rumahnya.

"Maaf Bapak-bapak…Ibu-ibu…semeton-semeton tiang, anak kami sedang sakit. Tadi terjatuh dari sepeda motor dan tulangnya patah. Sekali lagi maaf atas gangguan ini" kata Ayah Fadli mencoba menenangkan.

"Kapan kejadiannya pak Fadli, kenapa kami tidak diberitahu sebelumnya ada musibah ini" Tanya salah satu tetangga. Ayah dan Ibu Fadli tersenyum mencoba menyembunyikan rasa cemas di hati mereka.

"Sekitar lima menit yang lalu pak, kami takut membangunkan saudara-saudara semua, makanya tidak kami beritahukan". Kata ayah Fadli.

"Boleh kami lihat keadaan Fadli Pak" yang lain menyahut. Ayah dan Ibu Fadli saling pandang.

"Maaf, untuk saat ini Fadli sedang tidak bisa diganggu. Itu pesan dokter"

Para tetangga mengangguk dan satu persatu mulai beranjak meninggalkan rumah Fadli.

"Kalian telah dibohongi oleh mereka berdua. Mereka telah berbohong tentang keadaanku. Aku memang patah, tapi bukan anggota tubuhku, hatikulah yang patah dan terluka karena cintaku yang terlarang" Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam rumah. 

Para tetangga yang sudah beranjak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara setengah berteriak dan tampak Fadli sudah berdiri di belakang Ayah dan ibunya.

"Sekarang aku ingin meminta pendapat pada kalian semua. Jika pendapat kalian menyetujui, maka kalian benar-benar cerdas dan termasuk pendukung cinta yang sejati. Tapi jika tetap seperti kedua orang tua ini, maka kalian semua adalah hamba-hamba bodoh pembenci cinta" teriak Fadli sambil menunjuk-nunjuk ke arah kerumunan. Para tetangga yang berkerumun penasaran dan masih tak mengerti maksud Fadli, apalagi saat menunjuk kedua orang tuanya yang dianggapnya pembohong.

"Mereka melarangku menikah dengan orang yang aku cintai hanya karena aku satu susuan dengannya. Tidakkah kalian merasa ini adalah hukum yang dibuat-buat mereka yang membenci cinta? Kata mereka ini hukum Tuhan, tapi aku yakin Tuhan tidak akan memisahkan dua hati yang telah menyatu". Teriak Fadli lantang. 


Mendengar kata-kata Fadli, kepala-kepala yang berkerumun mengangguk paham. Kedua orang tua Fadli hanya terpaku di tempat mereka berdiri. Mereka tidak pernah menyangka Fadli akan keluar dan melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir di benak mereka.

Tiba-tiba Fadli melangkah mantap menuju sepeda motor yang terparkir di teras rumah. Saat ayah dan ibunya mencoba mendekat, dia segera memberi isyarat larangan dengan telunjuknya.

 

"Jangan menghalangi atau mencoba merayuku. Aku tidak kenal dan tidak akan patuh pada perintah siapapun yang mencoba menghalangi cintaku". Kata Fadli geram. 

Setelah itu sepeda motor di straternya dan langsung melesat meninggalkan kepala-kepala yang melongok mengiringi tubuhnya memacu dalam kegelapan.

Fadli terus memacu sepeda motornya kencang menyusuri gelapnya malam dan jalan berkerikil. Suara raungan motornya seakan-akan ingin memperdengarkan malam tentang suasananya hatinya yang memendam bara. Hingga sesampainya di depan rumah Karima ia menghentikan laju sepeda motornya. 


Sejenak Fadli terdiam memandang rumah kecil di depannya. Nampak lengang dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak seperti keadaan rumahnya yang mungkin saat ini sudah dikerubungi tetangga-tetangga yang berkisah satu sama lain tentang keadaannya. Mungkin sekarang mereka sudah mengecapnya pemuda gila sebab cintanya terlarang. 


Suasana di rumah Karima benar-benar tenang dengan penghuni yang sudah nyenyak terbuai mimpi masing-masing. Dan ia merasa kecewa. Keinginannya untuk memberanikan diri memanggil Karima akhirnya diurungkannya. Dia merasa Karima sudah tertidur dan menerima dengan lapang dada cerita orang tuanya tentang hubungannya dengan dirinya. Biarlah dia sendiri yang akan menanggung derita batinnya. Ia tak mau memaksa Karima untuk ikut hanyut dalam rasa yang mungkin hanya ia sendiri yang merasakannya.


Fadli kembali menghidupkan sepeda motornya. Suara keras sepeda motornya berpacu dengan laju sepeda motor yang sepertinya terdengar tak terkendali. Hingga di sebuah pantai Fadli menghentikan sepeda motornya. Setelah terdiam sejenak, dengan tubuh yang lemah ia turun dan mendekat ke bibir pantai. Suara debur ombak terdengar menghempas tebing dan karang membuyarkan hening malam. Langit gelap dan tak menyisakan sedikit celah untuk gemintang mengintip. Air mata Fadli meleleh deras. Sesenggukannya membuat melata malam membisu menyimak keresahan di hati Fadli. Tiba-tiba Fadli mengangkat kedua tangannya ke atas.


Hai penghuni malam…. terbangunlah

Lihat aku dan dengar tangisku yang menyayat

Tak ibakah kalian dengan sedikit simpati

Untuk menyampaikan rintihanku pada Tuhan

Tak maukah kalian membantuku meminta Tuhan menampakkan Diri-Nya

Dan mengumumkan pada dunia bahwa Hukum-Nya tentang cintaku saat ini akan dirubah-Nya?


Sejenak Fadli tiba-tiba terdiam melanjutkan tangis yang menyayat yang memaksa bibirnya tercekat tak mampu berucap. Seperti sedang mengingat sesuatu, ia tersenyum sinis. Iapun kembali mengangkat tangannya.


Tapi dengarkan satu lagi rintihanku

Ternyata kekasihku tak mencintaiku

Disaat aku sedang berduka

Dia lelap dalam buaian mimpi indahnya

Dia biarkan aku menangis sendiri menikmati sengsaranya batin.

Dia menghianatiku.


Tubuh Fadli lemah menghempas di atas pasir. Tenaga seperti sudah habis terkuras. Sisa syair untuk merintih tak mampu terucap. Tak ada asa. Yang terbaik mungkin membisu dan terkapar di atas hamparan pasir pink yang akan menjadi saksi bisu tragisnya hidup.


Sesosok bayangan terlihat seperti mendekat ke arah Fadli yang terbaring lemah. Semakin dekat, langkah sosok misterius itu semakin terlihat sempoyongan berusaha secepat mungkin dekat dengan tubuh Fadli. Hingga saat jaraknya nyaris menyentuh tubuh Fadli, ia tersungkur jatuh. Fadli mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sosok misterius itu. Hidungnya mendengus seperti sedang merasakan bau khas yang sudah tak asing lagi di hidungnya. Tubuh Fadli melonjak bangkit.

"Karima? Benarkah ini kamu?" Tanya Fadli sambil berusaha mengangkat tubuh wanita yang tak lain adalah Karima.

"Aku kira kau tak mempedulikan aku lagi Fadli. Sudah dua jam aku menunggumu dengan tangisku di dalam Bunker. Aku kira kau tak akan datang walau sekedar mengusap air mataku" kata Karima sedih. Fadli memeluk erat tubuh Karima. Karima membalasnya dengan pelukan tak kalah erat.

"Anggapan kita sama kekasihku. Tapi kita sudah membuktikan kesetiaan cinta kita. Kini kita akan buktikan bahwa hukum Tuhanpun tak akan sanggup menghalangi bersatunya cinta kita" kata Fadli tegas sambil mendongak ke langit gelap. Karima menggeleng lemah sembari mengusap air mata di wajah Fadli.

"Tidak kekasihku. Kita tidak akan memperotes Tuhan dengan cara seperti itu. Aku takut baik di dunia maupun di akhirat kelak cinta kita akan tetap terhalang karnanya. Kita jalani saja sisa hidup dan derita kita di dalam bunker sampai saatnya nanti Tuhan menghabiskan sisa nafas kita" Karima mencoba mengajak Fadli berpikir lebih bijak. Fadli terdiam mencoba merenungi apa yang baru saja diucapkan Karima. Dalam hati kecil ia memberontak tak setuju, tapi di lain sisi ia berusaha membenarkan dan menyetujui perkataan Karima.

"Apapun keputusanmu akan aku taati. Jika ini yang terbaik buat kita, aku mengiyakan semua keputusanmu" kata Fadli dengan senyum yang mengembang. Karima membalas dengan senyum dan sebuah kecupan hangat di kening Fadli.


Setelah itu Fadli bangkit dan menuntun Karima untuk berdiri. Sejenak mereka saling rangkul menghadap jauh kegelapan laut. Suara gedebur ombak mengiringi tangis keduanya. Tangis bahagia sebab kini mereka satu hati untuk menghabiskan sisa hidup di dalam bunker sampai ajal menjemput mereka.


Setelah dirasa cukup, mereka berdua akhirnya melangkah menuju bunker. Dengan tubuh yang saling menopang satu sama lain, mereka terus berdendang bersama semilir angin. 


Di lorong bunker sebelah kanan mereka sepakat menghentikan langkah dan berdiam di sana. Tetap dengan tubuh yang masih saling merangkul satu sama lain dan suara tembang yang hanya mereka sendiri yang tahu. Terdengar suara Guntur menggelegar disertai hujan deras dan hempasan angin. Tak lama kemudian tanah bukit di atas bunker terdengar longsor dan memenuhi bunker tempat Karima dan Fadli berada. Fadli semakin mempererat dekapannya.

"Tuhan mengerti keinginan kita kekasihku. Kita tidak akan terlalu menghabiskan sisa hidup kita di dalam lorong gelap ini. Inilah makam suci kita. Kita akan segera menyonsong istana yang telah disiapkan Tuhan untuk balasan kesetiaan kita. Sekarang pejamkan mata kita dengan senyuman suka cita kita". Kata Karima menyemangati Fadli. Mereka berdua tersenyum dan mulai memejamkan mata.


Kembali terdengar suara menghempas. Tanah bukit di sebelah yang longsor kembali memenuhi lorong bunker tempat Fadli dan Karima berbaring. Mereka terkubur di dalamnya setelah jiwa keduanya melayang ke alam lain. Sampai sekarang, sebagian bunker yang ada di pantai Pink masih terkubur oleh tanah. Di sanalah dua manusia yang saling mencinta terkubur bersama cinta mereka.

GADIS TANGSI, Karima Dyah

Penulis : Lalu LHJ

Post a Comment

Comment Policy : Silahkan tulis komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

أحدث أقدم